BAB 6 ASPEK PENALARAN DALAM
KARANGAN ILMIAH
1.
Menulis sebagai proses penalaran
Menulis
merupakan proses bernalar. Dimana pada saat kita ingin menulis sesuatu tulisan
baik itu dalam bentuk karangan atau pun yang lainnya, maka kita harus mencari
topiknya terlebih dahulu. Dan dalam mencari suatau topik tersebut kita harus
berfikir, maka pada saat kita berfikir tanpa kita sadari kita sendiri telah
melakukan proses penalaran. maka pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan
sedikit mengenai menulis merupakan prosae bernalar.
Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5
aspek yaitu :
a. Aspek
Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar
bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan.
b.
Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang
suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari hal yang paling
mendasar ke hal yang bersifat pengembangan.
c.
Aspek argumentasi
Aspek argumentasi adalah bagian yang
menyatakan fakta , analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan
kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan.
d.
Aspek Teknik Penyusunan
Aspek teknik penyusunan adalah bagaimana
pola penyusunan yang dipakai ,apakah digunakan secara konsisten , karangan
ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu dan terknik bersifat baku
dan universal.
e.
Aspek Bahasa
Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan
bahasa karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah
. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan
suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis
2. Penalaran
Deduktif dan Induktif
a) Penalaran Induktif
Induksi / induktif adalah
suatu proses berpikir yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak
dari penelitian dan evaluasi atas fenomena-fenomena yang ada. Karena semua fenomena
harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke
penalaran induktif, maka proses penalaran itu juga disebut sebagai corak
berpikir yang ilmiah. Namun induksi sendiri tak akan banyak manfaatnya kalau
tidak diikuti oleh proses penalaran deduktif. Pengertian fenomena-fenomena
individual sebagai landasan penalaran induktif harus diartikan pertama-tama
sebagai data-data maupun sebagai pernyataan-pernyataan, yang tentunya bersifat
faktual pula.
Proses penalaran induktif
dapat dibedakan lagi atas bermacam-macam variasi seperti generalisasi, hipotese
dan teori, analogi induktif, kausal dan sebagainya.
Contoh penalaran induktif :
Harimau berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
b)
Penalaran Deduktif
Sebagai suatu istilah dalam
penalaran, deduktif / deduksi adalah merupakan suatu proses berpikir
(penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada
suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Dari
pengalaman-pengalaman hidup kita, kita sudah membentuk bermacam-macam
proposisi, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Proposisi baru itu
tidak lain dari kesimpulan kita mengenai suatu fenomena yang telah kita
identifikasi dengan mempertalikannya dengan proposisi yang umum.
Dalam penalaran deduktif,
penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta. Yang perlu baginya adalah suatu
proposisi umum dan suatu proposisi yang mengidentifikasi suatu peristiwa khusus
yang bertalian dengan suatu proposisi umum tadi. Bila identifikasi yang
dilakukannya itu benar, dan kalau proposisinya itu juga benar, maka dapat
diharapkan suatu kesimpulan yang benar.
Uraian mengenai proses
berpikir deduktif ialah seperti silogisme kategorial, entimem, rantai deduksi,silogisme alternatif,
silogisme hipotesis dan sebagainya.
Contoh penalaran deduktif:
Contoh penalaran deduktif:
Masyarakat Indonesia
konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus)
dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya
hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
3. Fakta
Sebagai Unsur dalam Penalaran Ilmiah
Agar
dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang
berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab
itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa
pengertian dari fakta
Selain itu, kita dapat
menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah
anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun
pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.
1)
Klasifikasi
Membuat klasifikasi
mengenai sejumlah fakta, berarti memasukkan atau menempatkan fakta-fakta ke
dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Suatu klasifikasi akan
berhenti, tidak dapat diteruskan lagi jika sudah sampai kepada individu yang
tidak dapat merupakan spesies atau dengan kata lain jenis individu tidak dapat
diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan ke dalam suatu spesies.
Contohnya, "Dani adalah manusia", tetapi tidak "Manusia adalah
Dani" karena Dani adalah individu dan bersifat unik.
2)
Jenis Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu:
·
Klasifikasi sederhana, suatu kelas hanya mempunyai dua kelas
bawahan yang berciri positif dan negatif. Klasifikasi seperti itu disebut juga
klasifikasi dikotomis (dichotomous classification dichotomy).
·
Klasifikasi kompleks, suatu kelas mencakup lebih dari dua kelas
bawahan. Dalam klasifikasi ini tidak boleh ada ciri negatif; artinya, suatu
kelas tidak dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya suatu ciri.
3)
Persyaratan Klasifikasi
Klasifikasi harus
dilakukan dengan memperhatikan beberapa persyaratan:
·
Prinsipnya harus jelas. Prinsip ini merupakan dasar atau patokan
untuk membuat klasifikasi, berupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua
fakta atau benda (gejala) yang diklasifikasikan.
·
Klasifikasi harus logic dan ajek (konsisten). Artinya,
prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya.
·
Klasifikasi harus bersikap lengkap, menyeluruh. Artinya, dasar
pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok
tanpa kecuali.
BAB
7 PENYUSUNAN
SINTESIS
1. Pengertian
Sintesis
diartikan sebagai komposisi atau kombinasi bagian-bagian atau elemen-elemen
yang membentuk satu kesatuan. Selain itu,
sintesis juga diartikan sebagai kombinasi konsep yang berlainan menjadi satu
secara koheren, dan penalaran induktif atau kombinasi dialektika dari tesis dan
antitesis untuk memperoleh kebenaran yang
lebih tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) sintesis diartikan
sebagai “paduan berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang
selaras atau penentuan hukum yang umum berdasarkan hukum yang khusus.”
2.
Cara Membuat Sintesis Tulisan
Sejumlah syarat yang harus diperhatikan oleh penulis
dalam membuat sintesis, diantaranya:
a.
Penulis harus bersikap objektif dan kritis
atas teks yang digunakannya.
b.
Bersikap kritis atas sumber yang dibacanya.
c.
Sudut pandang penulis harus tajam.
d.
Penulis harus dapat mencari kaitan antara
satu sumber dengan sumber lainnya.
e.
Penulis harus menekankan pada bagian sumber
yang diperlukannya.
3.
Cara Membuat Tulisan Dari Bahan Bacaan Yang
Beragam
Sebuah
keterampilan tidak semua orang mampu dengan cermat dan
tepat membuat tulisan dari bahan bacaan yang dibacanya. menggariskan cara yang
berbeda dan kita dapat mengubah produk data anda untuk mengoptimalkan
pengungkapan, Sering kali ini memerlukan produk informasi lebih dari yang kita
sediakan. Masing-masing laporan berlaku untuk jumlah produk yang tercantum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar